Setelah perjanjian damai dengan pemerintah Suriah, SDF menghadapi fase transisi yang kompleks. Secara resmi, mereka setuju membatasi operasi militer, namun struktur kekuatan di lapangan masih utuh.
Pernyataan “pertarungan ditunda, tapi belum selesai” oleh beberapa petingginya, menegaskan bahwa SDF tidak bubar. Strategi ini memungkinkan mereka mengatur ulang pasukan dan logistik, sambil tetap mempertahankan pengaruh di wilayah strategis, meski pemerintah menegaskan proyek separatisme Kurdi sudah berakhir.
Konsultasi dengan Masoud Barzani menunjukkan SDF mendapat arahan untuk membeli waktu. Penundaan ini bukan pasif, tetapi untuk menghindari eskalasi langsung dengan Turki yang berpotensi membuka front baru.
Dukungan politik dari Barzani, pemimpin Kurdistan Irak, meski tidak bersifat militer, tetap penting. Legitimasi ini memberi SDF ruang diplomatik dan menguatkan posisi tawar mereka dalam negosiasi internasional.
Strategi SDF dapat dibagi menjadi beberapa tahap: pertama, mengamankan wilayah inti dan memantau pergerakan pasukan pemerintah Suriah. Kedua, memperkuat kembali jaringan logistik dan komunikasi, termasuk senjata, persediaan, dan intelijen, dengan sisa pasukan yang ada usai sebagian besar unsur pasukan Arabnya berkurang atau bergabung ke pemerintah.
Tahap ketiga adalah mengonsolidasikan dukungan komunitas lokal. SDF tetap berusaha mempertahankan loyalitas warga Kurdi dan sekutu lokal lain melalui pengaruh sosial, ekonomi, dan politik.
Tahap keempat, penyesuaian taktik operasional. Jeda pertempuran memberi waktu bagi SDF untuk menyusun strategi pertahanan dan, jika perlu, operasi ofensif yang lebih terkoordinasi di masa depan.
Di sisi lain, pemerintah Suriah secara simbolis menempatkan pasukan keamanan di kota-kota besar seperti Hasakah dan Qamishli. Namun SDF tetap menguasai sebagian besar lapangan, termasuk wilayah pedesaan dan jalur logistik.
Keberadaan pasukan pemerintah ini bersifat simbolik; kontrol nyata masih berada di tangan SDF. Hal ini menciptakan kondisi “kedaulatan tanpa kendali” di wilayah tersebut.
SDF juga kemungkinan akan memanfaatkan periode ini untuk mengamankan perbatasan dan jalur perdagangan ilegal yang selama ini menjadi sumber pendanaan mereka. Strategi ini memperkuat posisi ekonomi sekaligus kapasitas militer.
Dalam jangka menengah, SDF kemungkinan akan menghindari konfrontasi langsung dengan pasukan pusat atau Turki, memilih aksi terbatas untuk menguji respon dan mengukur kekuatan lawan.
Skenario konflik mendatang bisa muncul jika pemerintah Suriah mulai memperluas kendali nyata di kota-kota besar atau mencoba menekan posisi SDF di pedesaan. Saat itu, SDF bisa merespons dengan operasi taktis atau mobilisasi cepat milisi lokal.
Selain aspek militer, SDF tetap menjaga kepercayaan komunitas Kurdi dan sekutu minoritas. Pengaruh politik lokal menjadi senjata penting untuk mempertahankan posisi tanpa harus berperang penuh.
SDF kemungkinan juga akan memanfaatkan hubungan internasional—terutama AS dan beberapa negara Eropa—untuk menekan Damaskus agar tidak melakukan operasi militer agresif terhadap wilayah mereka, sehingga sabotase yang mereka lakukan ke sistem politik Suriah lebih berdampak sebagaimana yang di lakukan milisi Druze Hikmat Al Hajri pro Israel di Suwaida.
Pola ini mirip strategi “mengulur waktu” yang digunakan milisi Kurdi di Irak pada awal 2000-an, saat menunggu kondisi geopolitik lebih menguntungkan sebelum menghadapi konflik besar.
SDF tetap menyadari risiko keterlibatan Turki. Dengan menunda pertempuran langsung, mereka mengurangi kemungkinan Turki membuka front baru, yang bisa melemahkan posisi mereka secara keseluruhan.
Secara internal, SDF juga menggunakan periode ini untuk rekrutmen dan pelatihan anggota baru, memperbarui persenjataan, dan menata komando militer agar lebih siap menghadapi kemungkinan konflik di masa depan.
Strategi politik dan militer ini menunjukkan bahwa SDF tidak pasif, melainkan menunggu waktu yang tepat untuk meningkatkan posisi tawar mereka.
Kesimpulannya, jeda pasca-perjanjian bukan berarti SDF menyerah. Ini adalah fase mengulur waktu, memperkuat diri, dan mempersiapkan skenario konflik lebih besar jika peluang muncul. Harahapn agar SDF terintegrasi dan menjadi 'Hong Kong' nya Suriah semakin terpupus.
Warga dan pemerintah pusat perlu memahami bahwa kontrol nyata di lapangan masih terbagi. Kesabaran, strategi diplomatik, dan kesiapan militer menjadi kunci bagi semua pihak untuk mengelola risiko yang ada.



No comments:
Post a Comment