Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Saturday, February 7, 2026

    Jejak Kurdi dalam Peradaban Islam

    Salahuddin al-Ayyubi dikenal luas dalam sejarah dunia Islam sebagai tokoh sentral Perang Salib dan penakluk kembali Yerusalem pada 1187. Namun di balik reputasinya sebagai pemimpin besar umat Islam, Salahuddin juga memiliki latar belakang etnis yang kerap luput dari sorotan, yakni sebagai seorang Kurdi, bagian dari mozaik panjang peran bangsa Kurdi dalam sejarah Islam.

    Salahuddin lahir di Tikrit, wilayah Mesopotamia Hulu, dari keluarga Kurdi yang berasal dari kawasan Dvin di Armenia. Wilayah ini sejak berabad-abad sebelumnya menjadi salah satu pusat permukiman Kurdi, khususnya dari rumpun Kurmanji, yang tersebar dari Anatolia timur hingga pegunungan Zagros.

    Ayah dan pamannya merupakan perwira militer yang mengabdi pada penguasa Muslim Syam, Dinasti Zangid. Dari lingkungan inilah Salahuddin tumbuh sebagai bagian dari elite militer profesional, bukan pemimpin kabilah, sebuah posisi yang lazim bagi orang Kurdi dalam struktur negara-negara Islam abad pertengahan.

    Meski beretnis Kurdi, Salahuddin tidak pernah membangun kekuasaan atas dasar identitas etnis. Dinasti Ayyubiyah yang ia dirikan bersifat Islam universal, mencakup Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman, dengan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan dan administrasi.

    Dalam sumber-sumber sejarah Arab dan Persia, ia kerap disebut dengan julukan “al-Kurdi”, sebuah penanda etnis yang bersifat deskriptif, bukan ideologis. Identitas keislaman dan legitimasi khalifah Abbasiyah menjadi fondasi utama kekuasaannya.

    Peran Kurdi dalam sejarah Islam tidak bermula dari Salahuddin. Pada era Umayyah, sejumlah komandan dan pejabat Kurdi telah tercatat mengabdi di wilayah perbatasan kekhalifahan, khususnya di kawasan Jazirah dan Armenia, yang menjadi zona militer strategis.

    Memasuki era Abbasiyah, kehadiran Kurdi semakin menonjol. Mereka banyak direkrut sebagai pasukan pegunungan dan penjaga perbatasan, memanfaatkan reputasi mereka sebagai prajurit tangguh dan loyal dalam struktur negara.

    Salah satu tokoh Kurdi penting era Abbasiyah adalah Hasanwayh ibn Husayn, pendiri Dinasti Hasanwayhid pada abad ke-10 di wilayah Zagros. Meski berskala regional, dinasti ini menunjukkan kemampuan elite Kurdi membangun pemerintahan stabil dalam kerangka dunia Islam.

    Tokoh lain adalah Badr ibn Hasanwayh, penguasa Kurdi yang dikenal mendukung ulama, membangun infrastruktur, dan menjaga jalur perdagangan. Perannya menegaskan bahwa Kurdi tidak hanya hadir sebagai prajurit, tetapi juga administrator dan pelindung agama.

    Pada masa Seljuk, banyak komandan Kurdi naik ke posisi penting, termasuk dalam pasukan yang menguasai Anatolia dan Persia. Lingkungan inilah yang kemudian melahirkan figur-figur Kurdi seperti keluarga Ayyubiyah.

    Memasuki era Ottoman, posisi Kurdi semakin terinstitusionalisasi. Kekaisaran Ottoman mengakui peran emirat-emirat Kurdi semi-otonom di Anatolia timur dan Irak utara sebagai penyangga perbatasan melawan Persia Safawi.

    Tokoh Kurdi paling menonjol era Ottoman adalah Idris Bitlisi, seorang negarawan dan sejarawan Kurdi yang berperan besar membantu Sultan Selim I mengintegrasikan wilayah Kurdi ke dalam kekaisaran dengan pendekatan politik, bukan penaklukan brutal.

    Selain itu, banyak ulama dan sufi Kurdi berpengaruh dalam dunia Islam, seperti Ahmad Khani, penyair dan pemikir Kurdi abad ke-17, yang menulis karya religius dan filsafat Islam dalam bahasa Kurdi.

    Jauh sebelum Islam, bangsa Kurdi telah menempati wilayah strategis antara Mesopotamia, Anatolia, dan Persia. Dalam sumber-sumber Yunani dan Persia kuno, mereka sering diidentifikasi sebagai kelompok pegunungan seperti Carduchi atau Cyrtii.

    Pada era Kekaisaran Persia Achaemenid, wilayah Kurdi modern berada di bawah kendali satrapi Persia. Orang-orang Kurdi berperan sebagai pasukan lokal dan penjaga jalur pegunungan, meski tidak membentuk negara merdeka.

    Pada masa Parthia dan Sassania, kawasan Kurdi tetap menjadi wilayah penting secara militer. Kedekatan geografis dengan Romawi Timur menjadikan mereka elemen strategis dalam konflik antar-imperium.

    Ketiadaan negara Kurdi kuno bukan berarti ketiadaan peran. Justru posisi mereka sebagai masyarakat perbatasan membentuk karakter politik Kurdi sebagai kelompok yang adaptif terhadap kekuasaan besar.

    Pola ini berlanjut hingga era Islam, di mana Kurdi lebih sering menjadi bagian dari struktur negara besar ketimbang membangun kekaisaran etnis sendiri. Salahuddin al-Ayyubi menjadi puncak simbol dari tradisi ini.

    Dalam konteks sejarah panjang tersebut, Salahuddin bukan anomali, melainkan representasi paling sukses dari pola historis Kurdi dalam dunia Islam: naik melalui merit militer, loyalitas politik, dan legitimasi agama.

    Karena itu, memaknai Salahuddin semata sebagai ikon etnis Kurdi atau Arab modern sering kali mengabaikan konteks zamannya. Ia adalah produk dari peradaban Islam abad pertengahan, di mana identitas agama dan kekuasaan lebih dominan daripada nasionalisme.

    Jejak Kurdi dalam sejarah Islam, dari era Umayyah hingga Ottoman, menunjukkan peran yang konsisten dan signifikan, meski kerap berada di balik layar. Salahuddin al-Ayyubi menjadi simbol paling terang dari kontribusi panjang tersebut.

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya