Direktorat Media Hasakah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pernyataan resmi terkait penunjukan gubernur baru untuk Provinsi Hasakah. Klarifikasi ini disampaikan menyusul maraknya pemberitaan dan perbincangan di media sosial mengenai sejumlah nama yang diklaim telah ditetapkan sebagai gubernur definitif.
Menurut otoritas setempat, nama-nama yang beredar tersebut masih berada pada tahap nominasi. Proses penunjukan gubernur Hasakah disebut belum final dan masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat di Damaskus.
Kondisi ini mencerminkan belum stabilnya situasi politik dan keamanan di wilayah timur laut Suriah. Hasakah hingga kini tetap menjadi salah satu provinsi paling sensitif, baik dari sisi etnis, militer, maupun geopolitik.
Di balik proses politik yang berjalan lambat tersebut, terdapat dinamika internasional yang kuat. Sejumlah sumber mengakui bahwa perjanjian damai antara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tidak terlepas dari peran aktor eksternal.
Prancis dan Amerika Serikat disebut sebagai pihak yang paling aktif mendorong kesepakatan tersebut. Selain itu, beberapa negara tetangga Suriah, seperti Irak, Yordania, dan Turkiye, juga diyakini ikut terlibat secara tidak langsung demi menjaga stabilitas perbatasan mereka.
Keterlibatan banyak pihak ini membuat perjanjian damai berjalan di atas kepentingan yang saling tumpang tindih. Akibatnya, implementasi di lapangan tidak berjalan secepat yang diharapkan.
Salah satu hambatan utama adalah belum sepenuhnya terbukanya akses bagi pasukan keamanan tambahan pemerintah Suriah. Hingga kini, upaya masuknya pasukan tersebut ke wilayah Kobane atau Ain al-Arab masih dihalangi.
Kobane menjadi titik krusial karena posisinya yang strategis dan simbolis bagi SDF. Penolakan masuknya pasukan tambahan ini dinilai sebagai sinyal bahwa kepercayaan antara kedua pihak masih rapuh.
Hambatan di Kobane berdampak langsung pada pelaksanaan perjanjian damai secara menyeluruh. Kesepakatan yang ada di atas kertas belum sepenuhnya tercermin dalam perubahan nyata di lapangan.
Selain itu, SDF hingga kini belum menyerahkan senjata berat mereka. Isu pelucutan senjata menjadi salah satu poin paling sensitif dalam negosiasi, karena berkaitan langsung dengan keseimbangan kekuatan militer di wilayah tersebut.
Pemerintah Suriah memandang penyerahan senjata berat sebagai prasyarat penting bagi normalisasi keamanan. Namun, SDF tampak masih menahan langkah tersebut dengan alasan keamanan dan jaminan politik yang belum jelas.
Di tengah kebuntuan itu, laporan mengenai penangkapan dan blokade oleh SDF terhadap pemukiman Arab di Hasakah terus bermunculan. Tindakan ini menambah ketegangan sosial di tengah masyarakat lokal.
Warga Arab di sejumlah kawasan mengeluhkan pembatasan akses, penahanan, serta tekanan keamanan yang dinilai berlebihan. Situasi ini memperburuk kepercayaan terhadap proses damai yang sedang dibangun.
Bagi banyak warga, perjanjian damai seharusnya membawa perbaikan kondisi hidup, bukan sebaliknya. Ketika penangkapan dan blokade masih berlangsung, optimisme terhadap kesepakatan pun kian menipis.
Sumber lokal menilai ketidaksinkronan antara kesepakatan politik dan praktik di lapangan berpotensi memicu instabilitas baru. Ketegangan etnis dan sosial dikhawatirkan kembali menguat jika tidak segera ditangani.
Pemerintah Suriah sendiri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, Damaskus harus menjaga jalur diplomasi dengan aktor internasional yang terlibat. Di sisi lain, tekanan publik untuk memulihkan kedaulatan penuh di Hasakah terus meningkat.
Ketidakjelasan soal penunjukan gubernur mempertegas situasi transisi yang belum tuntas. Selama kepemimpinan sipil belum dipastikan, pengelolaan keamanan dan administrasi akan tetap rentan.
Para pengamat menilai keberhasilan perjanjian damai Suriah–SDF sangat bergantung pada konsistensi implementasi. Tanpa langkah konkret seperti pembukaan akses pasukan negara dan penghentian tindakan sepihak, kesepakatan berisiko menjadi simbol semata.
Hasakah kini berada di persimpangan penting. Apakah perjanjian damai akan berkembang menjadi stabilitas nyata, atau justru terhambat oleh kepentingan politik dan militer yang saling berseberangan, masih menjadi pertanyaan besar.
Yang jelas, selama nominasi gubernur belum ditetapkan dan situasi keamanan tetap tegang, damai di Hasakah masih berada dalam tahap penantian.



No comments:
Post a Comment