Golden Finance 117 di Tianjin, Tiongkok, telah menjadi simbol salah satu gedung pencakar langit yang paling lama terbengkalai di dunia. Struktur megahnya berdiri tinggi meski bertahun‑tahun tak selesai, memicu tanya tentang masa depan proyek super tinggi di era modern. Proyek ini mencerminkan dampak dari gelembung properti dan tekanan ekonomi yang melanda sektor konstruksi di Tiongkok setelah 2015.
Awalnya, pembangunan Golden Finance 117 berjalan cepat. Menara yang dirancang setinggi hampir 600 meter itu diharapkan menjadi ikon baru skyline Tianjin, sekaligus tanda ambisi Tiongkok menarik investasi global melalui properti mewah dan ruang kantor premium. Namun, ketika pasar melambung dan pembiayaan mengering, momentum itu terhenti.
Golden Finance 117 kemudian mandek. Struktur beton dan baja berdiri, tetapi fasad luar, interior, dan fasilitasnya tak pernah selesai. Gedung itu berubah menjadi monumen raksasa yang kosong. Selama bertahun‑tahun, gedung ini menjadi bukti bagaimana proyek besar bisa tergilas oleh realitas ekonomi.
Pemerintah kota Tianjin sempat menolak mengambil alih. Gedung yang terbengkalai terlalu mahal untuk diselamatkan sepenuhnya, sementara risiko ekonomi dan sosial dari melanjutkan pengerjaan tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak pihak khawatir gedung akan menjadi beban anggaran daerah.
Namun, pada 2025 momentum berubah. Pemerintah lokal akhirnya mengeluarkan izin dan rencana lanjutan pembangunan, dengan dukungan entitas milik negara. Golden Finance 117 tidak lagi ditinggalkan, melainkan menjadi proyek yang secara resmi “berlanjut”, meski skala pengerjaannya kemungkinan tidak seluas rencana semula. Upaya ini mencerminkan keinginan Tiongkok menyelesaikan gedung mangkrak besar dan merevitalisasi kawasan kota.
Kisah Golden Finance 117 bukan satu‑satunya drama langit tinggi. Di Pyongyang, Korea Utara, sejumlah gedung pencakar langit juga sempat terbengkalai lama. Struktur‑struktur itu kemudian diselesaikan secara parsial, terutama fasad kaca, sementara lantai‑lantai tertentu baru difungsikan untuk kantor dan fasilitas pemerintah.
Pendekatan di Pyongyang ini lebih pragmatis. Pemerintah berusaha menyelesaikan tampilan luar gedung agar skyline Ibukota terlihat apik, sambil hanya mengaktifkan bagian yang ekonomis untuk dipakai, tanpa memaksakan seluruh menara beroperasi penuh. Langkah ini mencegah gedung menjadi bom waktu struktural dan sosial bagi warga.
Cerita tentang gedung tinggi juga tidak lengkap tanpa menyebut Jeddah Tower di Arab Saudi. Proyek ini diiklankan sebagai gedung tertinggi di dunia, direncanakan melewati ketinggian satu kilometer. Namun konstruksinya sempat melambat dan tertunda akibat sejumlah faktor, termasuk penyesuaian desain dan tantangan teknis di lokasi gurun.
Pihak pengembang Saudi mengklaim bahwa pengerjaan Jeddah Tower akan berlanjut, tetapi hingga beberapa periode terakhir progresnya berjalan lambat. Ketidakpastian ini mencerminkan bagaimana proyek super tinggi memerlukan perencanaan finansial, logistik, dan sumber daya manusia yang luar biasa.
Bandingkan dengan kisah Burj Khalifa di Dubai. Pencakar langit ini sempat mengalami perlambatan di tengah pembangunan selama krisis keuangan global 2008. Pandemi dan tekanan ekonomi membuat pengembangnya sempat mengurangi ritme pengerjaan.
Namun pada titik kritis, pemerintah Abu Dhabi dan investor besar lainnya mendukung kelanjutan proyek. Penyuntikan modal baru dan restrukturisasi pembiayaan memungkinkan pembangunan dilanjutkan hingga tuntas. Burj Khalifa kemudian menjadi gedung tertinggi dunia, lambang keberhasilan rekayasa dan ambisi urban abad ke‑21.
Menariknya, nama Burj Khalifa sendiri mencerminkan pergeseran sponsorship ini. Alih‑alih memakai nama pengembang awal, menara itu dinamai untuk menghormati peran penting Khalifa bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab asal Abu Dhabi, yang menjadi pendorong utama pembiayaan lanjutan.
Perubahan nama itu menjadi simbol bahwa proyek super tinggi tidak cukup hanya dengan visi dan desain; dibutuhkan juga dukungan politik dan finansial yang kuat ketika badai ekonomi datang. Tanpa itu, monumen beton bisa menjadi beban.
Meski konteks berbeda—Tiongkok dengan pasar properti besar, Korea Utara dengan kontrol negara yang ketat, Arab Saudi dengan target diversifikasi ekonomi, dan UAE dengan modal internasional—ada benang merah yang sama: pembangunan gedung super tinggi selalu berkaitan erat dengan kondisi ekonomi makro dan politik lokal.
Dalam banyak kasus, proyek yang mandek bukan berarti mati secara permanen. Pemerintah atau investor alternatif sering kali mempertimbangkan kembali nilai strategis gedung, baik sebagai landmark urban maupun sebagai gaya untuk menarik bisnis dan pariwisata.
Namun, kelangsungan proyek ini harus mempertimbangkan biaya operasional, permintaan pasar ruang kantor, dan dampak sosial ekonomi terhadap lingkungan sekitar. Gedung tinggi bukan lagi sekadar simbol prestise, tetapi juga tantangan jangka panjang dalam hal keamanan, keberlanjutan, dan utilitas.
Golden Finance 117 di Tianjin kini menjadi studi kasus baru. Apakah pemerintah lokal mampu menyelesaikan gedung dengan skala besar tanpa membebani masyarakatnya? Jawaban atas pertanyaan ini masih berkembang seiring pengerjaan lanjutan berjalan.
Sementara itu, buram atau tidaknya masa depan Jeddah Tower juga akan menjadi penanda bagaimana negara‑negara kaya minyak mengelola proyek ambisi besar di era pasca‑energi. Keberlanjutan ekonomi menjadi syarat utama, bukan hanya tinggi struktur.
Burj Khalifa tetap berdiri sebagai bukti bahwa proyek gedung pencakar tinggi dapat diselamatkan lewat dukungan finansial kuat dan konsensus politik. Ia menjadi tolok ukur bagi pemain baru yang ingin menembus batas rekayasa vertikal.
Dalam kajian global, proyek‑proyek ini menunjukkan bahwa gedung tinggi adalah lebih dari sekadar konstruksi; mereka adalah cerminan hubungan antara kekuatan ekonomi, visi pemerintah, dan dinamika pasar global.
Golden Finance 117, Jeddah Tower, dan Burj Khalifa masing‑masing mewakili fase berbeda dari pertarungan monumental antara ambisi dan realitas. Dan di tengah semua itu, cerita proyek yang mangkrak bisa saja berakhir sebagai cerita comeback megah, jika dikelola dengan tepat secara finansial dan strategis.
Autograph Tower: Dari Mangkrak Hingga Gedung Tertinggi
Jakarta pernah mengalami fenomena gedung mangkrak seperti kota-kota besar dunia lainnya. Salah satunya adalah proyek Autograph Tower yang berlokasi di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Proyek pencakar langit ini sempat menghadapi berbagai kendala konstruksi dan pembiayaan pada tahap awal, sehingga pengerjaannya terhenti beberapa waktu.
Selama periode mandek, struktur bangunan sebagian besar sudah berdiri, namun fasad, interior, dan fasilitas gedung belum lengkap. Gedung ini sempat menjadi sorotan publik dan media karena megah secara desain tetapi belum fungsional, mencerminkan tantangan pengelolaan proyek super tinggi di tengah dinamika ekonomi nasional.
Kendala yang dihadapi termasuk restrukturisasi pembiayaan, perubahan kontraktor, dan perizinan yang membutuhkan waktu. Pemerintah daerah dan pengembang melakukan sejumlah evaluasi teknis untuk memastikan kelanjutan proyek tidak menimbulkan risiko bagi lingkungan sekitar dan keselamatan publik.
Setelah beberapa tahun berhenti, pembangunan Autograph Tower akhirnya dilanjutkan dengan strategi baru. Pendekatan ini mengutamakan penyelesaian fasad dan struktur utama terlebih dahulu, diikuti penyelesaian interior secara bertahap untuk mempercepat fungsi komersial dan kantor.
Proyek ini kemudian berhasil diselesaikan dan menorehkan sejarah baru. Dengan ketinggian 385 meter dan 109 lantai, Autograph Tower dinobatkan sebagai gedung tertinggi di Indonesia dan tercatat dalam MURI. Prestasi ini menegaskan bahwa gedung mangkrak bisa kembali bangkit jika manajemen, pendanaan, dan dukungan politik berjalan harmonis.
Autograph Tower juga menjadi simbol pencapaian Jakarta di belahan Bumi selatan. Gedung ini berhasil melampaui gedung pencakar langit lain di kawasan, termasuk Gedung Q1 (322 meter) di Australia dan Gran Torre Santiago (300 meter) di Chile, menempatkan Jakarta dalam peta internasional pembangunan vertikal.
Kesuksesan ini juga menginspirasi investor dan pengembang lainnya. Mereka melihat bahwa proyek megah yang sempat mandek tetap memiliki peluang untuk dilanjutkan dengan perencanaan keuangan dan manajemen risiko yang matang.
Proses pembangunan kembali Autograph Tower menekankan pentingnya koordinasi antara pengembang, pemerintah, dan kontraktor. Keselarasan ini memungkinkan pengerjaan cepat namun tetap aman, serta memenuhi standar keselamatan internasional untuk gedung super tinggi.
Kini, Autograph Tower tidak hanya menjadi gedung tertinggi, tetapi juga pusat kegiatan komersial dan bisnis modern di Jakarta. Gedung ini mengakomodasi kantor, fasilitas publik, dan ruang komersial, menjadikannya salah satu landmark utama Ibu Kota.
Pengalaman Jakarta dengan Autograph Tower membuktikan bahwa proyek gedung tinggi yang sempat mandek bukan akhir dari segalanya. Dengan strategi tepat, dukungan finansial yang memadai, dan pengelolaan proyek yang profesional, gedung mangkrak bisa berubah menjadi ikon kota dan kebanggaan nasional.



No comments:
Post a Comment