Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Monday, January 26, 2026

    Suku Arab Irak Bentengi Perbatasan

    Masuknya kelompok Kurdi yang berafiliasi dengan PKK dari wilayah Kurdistan Irak ke Suriah memicu reaksi keras dari suku-suku Arab di kawasan perbatasan. Pergerakan lintas batas tersebut dinilai mengganggu keseimbangan keamanan lokal dan berpotensi menyeret wilayah Irak ke dalam konflik Suriah yang kian kompleks.

    Kelompok pro-PKK disebut memanfaatkan celah pengawasan untuk memasuki wilayah Suriah utara, di tengah dinamika pascakonflik yang belum sepenuhnya stabil. Kehadiran mereka segera memancing kekhawatiran suku-suku Arab, baik di Suriah maupun Irak, yang melihat potensi eskalasi di wilayah tribal.

    Di Suriah, sejumlah suku Arab menyampaikan penolakan terbuka atas kehadiran kelompok bersenjata non-lokal. Penolakan itu berangkat dari kekhawatiran perubahan demografi, kontrol wilayah, serta potensi benturan dengan komunitas setempat yang selama ini menjaga stabilitas desa-desa perbatasan.

    Respons tersebut kemudian dibalas oleh suku-suku Arab di Irak dengan peringatan lebih keras. Mereka menegaskan agar kelompok bersenjata dari Suriah, termasuk yang berafiliasi PKK, tidak mendekati perbatasan Irak dalam kondisi apa pun.

    Peringatan paling tegas datang dari seorang pemimpin suku Shammar di wilayah Mosul. Dalam sebuah video wawancara yang beredar luas di platform X, tokoh suku itu menyampaikan ancaman terbuka terhadap siapa pun yang mencoba melintasi atau mendekati batas wilayah Irak.

    Dengan mengenakan pakaian tradisional dan dikelilingi awak media internasional, pemimpin suku tersebut membuka pernyataannya dengan basmalah. Ia menekankan kesucian tanah Irak dan menyatakan bahwa suku-suku Arab berdiri bersama pasukan keamanan negara.

    Ia menyebut dirinya mewakili suku Shammar dan sejumlah suku Arab lainnya, seraya menyerukan dukungan penuh kepada Pasukan Mobilisasi Populer atau Al-Hashd Al-Sha’bi. Menurutnya, dukungan itu bersifat alami karena aparat keamanan berasal dari keluarga dan suku yang sama.

    Pernyataan tersebut menegaskan ikatan darah antara suku dan institusi keamanan Irak. Dalam pandangannya, setiap ancaman terhadap perbatasan berarti ancaman langsung terhadap komunitas suku itu sendiri.

    Tokoh Shammar itu juga menyebut adanya koordinasi luas antar kelompok bersenjata pro-negara di Irak. Pesan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesiapan kolektif menghadapi ancaman eksternal yang dinilai semakin nyata.

    Saat menyinggung situasi di Suriah, ia menegaskan bahwa konflik internal negara tetangga bukan urusan Irak. Sikap ini menandakan keinginan suku-suku Arab Irak untuk menjaga jarak dari dinamika politik Suriah, selama tidak berdampak langsung ke wilayah mereka.

    Namun, nada pernyataan berubah tajam ketika membahas perbatasan. Ia menyebut garis batas Irak sebagai garis merah yang tidak boleh disentuh oleh pihak mana pun dari Suriah.

    Menurutnya, perbatasan bukan sekadar batas administratif, melainkan bagian dari kehormatan dan identitas suku. Pandangan ini mencerminkan tradisi panjang suku-suku Arab dalam menjaga wilayah leluhur mereka.

    Ia kemudian mengaitkan pertahanan tanah dengan keyakinan dan nilai spiritual. Tanah Irak digambarkan sebagai sesuatu yang suci dan layak dipertahankan dengan segala cara.

    “Kami lahir dari tanah ini dan akan mati di tanah ini,” ujarnya, dalam retorika yang menggambarkan kesiapan berkorban demi mempertahankan wilayah. Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian luas di media sosial.

    Ancaman paling keras muncul ketika ia menyebut bahwa siapa pun yang mendekati perbatasan Irak dari sisi Suriah akan “menemukan jalan ke neraka”. Ungkapan ini menjadi kutipan utama yang menyebar cepat di berbagai platform.

    Video tersebut viral dan mendapat dukungan luas dari warganet Irak, yang melihatnya sebagai bentuk patriotisme dan peringatan dini terhadap potensi infiltrasi bersenjata.

    Di sisi lain, reaksi dari warga Suriah terbelah. Sebagian menilai pernyataan itu sebagai provokasi, sementara lainnya melihatnya sebagai refleksi ketegangan nyata di kawasan perbatasan.

    Keanehan muncul ketika pemerintah Irak dan otoritas Kurdistan Irak tidak secara terbuka melarang pergerakan kelompok PKK Irak menuju Suriah. Sikap ini memunculkan tanda tanya di kalangan pengamat keamanan regional.

    Ketiadaan larangan resmi tersebut dinilai berisiko memicu reaksi sepihak dari aktor non-negara, termasuk suku-suku Arab yang merasa bertanggung jawab langsung atas keamanan wilayahnya.

    Dalam konteks konflik Suriah yang kembali memanas pada awal 2026, perbatasan Irak-Suriah menjadi titik sensitif. Suku Shammar dan konfederasi suku Arab lainnya telah lama berperan sebagai penjaga informal kawasan ini.

    Pernyataan keras dari pemimpin suku Irak kini dipandang sebagai sinyal peringatan, baik bagi kelompok bersenjata lintas batas maupun bagi pemerintah pusat. Apakah ini akan menahan eskalasi atau justru memicu ketegangan baru, masih menjadi pertanyaan terbuka di kawasan yang rawan konflik tersebut.

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya