Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Friday, December 29, 2017

    Profil Konglomerat di Masa Tuanya Mengurus #Pesantren

    PAHOMPU NABURJU -- Saat Indonesia berperang merebut kemerdekaan 1945, tak ada logistik memadai buat para pejuang.

    Sukamdani Sahid Gitosardjono, berpikir bagaimana memberi makan tentara walaupun saat itu didukung rakyat.

    Saat itu, pria kelahiran 14 Maret 1928 itu berpikir mengumpulkan kain batik rakyat untuk ditukar dengan beras.

    "Beras itu untuk makan tentara," ujarnya kepada Kompas, Juni 2013.

    Saat Indonesia dua kali melawan agresi Belanda, ia mencari gaplek di Wonogiri, Jawa Tengah. Lalu menukarnya dengan beras.

    Selepas perang, Sukamdani kembali ke bangku sekolah dan menjadi pamong praja di Sukoharjo, Jawa Tengah.

    Pada 1952 pindah ke Jakarta dan mulai jadi pegawai negeri sipil di Departemen Dalam Negeri. "Tapi tidak kerasan. Saya ingin jadi pemimpin," ujarnya.

    Ia lalu keluar dan menjadi pegawai swasta. Pada 1955 Sukamdani sudah merintis usaha kecil-kecilan bidang percetakan.

    Namanya, NV Harapan Masa. Sumber lain menyebut, nama perusahannya CV Masyarakat Baru. Modal awalnya, dua buah mesin percetakan yang dibeli langsung dari tempat kelahirannya, di Solo.

    Pada Juli 1956 ia menggelar kongres Perusahaan Percetakan Indonesia. Karena gemar berorganisasi dia bertemu dengan Presiden Soekarno dan membina hubungan ini.

    Saat ibu kota pindah dari Yogyakarta ke Jakarta banyak buku dan dokumen pemerintah yang harus dicetak. Peluang ini jatuh ke tangannya.

    Perusahaannya juga mendapat order dari Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Keuangan. Usahanya tumbuh hingga memiliki tiga percetakan di Jakarta dan satu di Solo.

    Sukamdani juga awas bagaimana menyiapkan tenaga kerja. Selaras dengan tumbuhnya bisnis percetakan, Ia mendirikan mendirikan Akademi Grafika pada 1965, dan Sekolah Tinggi Grafika.

    Geliat bisnisnya membuat Sukamdani kerap melakukan perjalanan bisnis.

    Pada 1961 dia sedang di Medan dan mau berangkat ke Padang. Kendaraan sangat sulit sekali, begitu juga dengan hotel.

    "Sejak itu tercetus keinginan untuk membuat usaha perhotelan," kata dia, seperti dikutip dari Bisnis.com.

    Hotel pertama dibuat di Solo. Kenapa memilih Solo? Sandarannya feeling. Solo akan banyak dikunjungi turis.

    Selain itu, Sukamdani juga menimbang keputusan pemerintah yang menyatakan Solo dicanangkan menjadi objek pariwisata. Pada 1965 hotel itu berdiri dan diberi nama Hotel Sahid Sala.

    Sukamdani mengembangkan hotelnya ke Jakarta. Pengembangan hotel itu cukup sulit karena lahan terbatas.

    Untungnya, Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta saat itu menjadikan Sudirman sebagai kawasan bangunan tinggi. "Saya mendapatkan tambahan lahan," kata dia. Berdirilah Hotel Sahid Jaya yang beroperasi pada 1973.

    Pertumbuhan hotel ini diikuti dengan mendirikan Akademi Perhotelan pada 1988, lalu Universitas Sahid.

    Kesuksesan Sukamdani mengantarnya menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) sejak 1982.

    Ia terpilih dua periode berturut-turut hingga 1988. Salah satu perannya saat itu adalah membuka kembali hubungan dagang dengan China yang sempat tertutup lama.

    Tapi saat itu ada satu impian yang masih hinggap di pikirannya: mempunyai suratkabar.

    Kendalanya bukan pada izin, tapi justru pada modal. Membuat media butuh modal besar. Sukamdani tak sanggup jika menanggung sendirian.

    "Saya mengajak Ciputra, Anthony Salim, dan Eric Samola untuk bersama-sama mendirikan suratkabar ekonomi. Mereka setuju," katanya seperti dikutip dari Pantau.

    Sukamdani sempat merangkap sebagai pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi di Bisnis Indonesia. Bisnisnya membesar dan menggurita. Dari hotel, media, hingga perbankan.

    Bisnisnya tetap berkembang dan ia serahkan kepada lima anaknya.

    Grup Sahid meliputi Harian Bisnis Indonesia, jaringan Hotel Sahid, Rumah Sakit Sahid Sahirman, Universitas Sahid, dan berbagai sektor properti.

    Hari-harinya dia isi dengan main golf, dan mengurus Pesantren Modern Sahid di Bogor. Menurutnya, bisnis harus bisa menghidupi orang lain, membuka lapangan kerja. "Tidak serakah. Bisnis itu untuk kesejahteraan," kata dia.

    Sukamdani tutup usia di umur 89 tahun pada Kamis (21//12/2017) pagi di Rumah Sakit Sahid Sahirman. Sukamdani dimakamkan dengan upacara militer.

    Menurut anaknya, Hariyadi Sukamdani, sebelum jadi pengusaha ayahnya adalah pejuang veteran 1945. "Pak Sukamdani angkatan 45," ujarnya. (sumber)

    Yuk gabung PanPage Facebook Belajar Quran dan Ilmu Tafsir atau di sini


    Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya