Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Tuesday, February 3, 2026

    Kondisi Eks Wilayah SDF Suriah Pasca Perjanjian Damai

    Pasca perjanjian damai antara pemerintah Suriah dan SDF, eks wilayah yang sebelumnya dikuasai SDF kini menunjukkan kondisi yang berbeda-beda. Setiap wilayah memiliki tingkat integrasi, keamanan, dan aktivitas warga yang bervariasi.

    Wilayah pertama adalah kawasan yang langsung dikuasai pemerintah, seperti Sheikh Maqsood dan Al-Ashrafiyeh. Kawasan ini langsung terintegrasi ke wilayah lain yang berada di bawah kendali Damaskus.

    Di sini, administrasi lokal berjalan relatif lancar. Pemerintah pusat mampu menempatkan aparat keamanan, layanan publik, dan birokrasi sipil secara efektif. Infrastruktur yang rusak sebagian besar telah diperbaiki.

    Warga di kawasan ini relatif merasa aman. Aktivitas ekonomi dan sosial berjalan normal karena kontrol pemerintah jelas dan SDF tidak lagi memiliki pengaruh langsung di lapangan.

    Wilayah kedua adalah daerah yang direbut oleh milisi suku sebelum akhirnya diserahkan ke pemerintah, seperti Raqqa, sebagian Deir Ezzour, dan pedesaan Hasakah, termasuk Al-Shaddadi.

    Meskipun gubernur dari pusat telah ditunjuk, integrasi wilayah ini masih berlangsung. Proses administrasi, hukum, dan ekonomi belum sepenuhnya berjalan sebagaimana wilayah yang dikuasai langsung pemerintah.

    Beberapa jembatan dan infrastruktur dasar telah dipulihkan, tetapi pembangunan dari pemerintah pusat masih minim. Banyak proyek besar dan layanan publik belum terealisasi sepenuhnya.

    Warga dari berbagai penjuru mulai kembali. Mereka yang pulang aktif melakukan perbaikan rumah, fasilitas lokal, dan usaha kecil. Kehadiran mereka menjadi motor pemulihan awal di wilayah ini.

    Namun situasi tetap rapuh. Ketergantungan pada aparat lokal dan sisa jaringan SDF dari kalangan Arab membuat kontrol pemerintah belum penuh. Keamanan sering bergantung pada kolaborasi dengan kelompok lokal yang baru.

    Kehadiran warga yang kembali juga membawa dinamika sosial baru. Beberapa komunitas menghadapi ketegangan akibat persaingan lama dan kecurigaan terhadap pihak lain yang pernah berafiliasi dengan SDF.

    Wilayah ketiga adalah kota-kota besar seperti Hasakah dan Qamishli, di mana pasukan keamanan pemerintah hanya masuk sebagian. SDF dan PKK masih menguasai lapangan secara nyata.

    Di kawasan ini, penangkapan, penculikan, dan operasi keamanan lokal oleh SDF masih terjadi. Masyarakat tetap berada di bawah pengaruh ganda: pemerintah pusat secara simbolik dan SDF secara praktis.

    Ketidakpastian ini menimbulkan ketegangan antar komunitas, terutama warga Arab yang selama ini merasa terpinggirkan oleh sistem keamanan ganda. Ketidakpercayaan antara kelompok etnis dan sekte juga meningkat.

    Hidup di wilayah ini memerlukan kehati-hatian ekstra. Aktivitas ekonomi dan sosial cenderung lambat karena warga takut bersinggungan dengan otoritas yang berbeda-beda.

    Beberapa analis menekankan bahwa pemerintah pusat perlu strategi bertahap. Penguatan administrasi, pembangunan infrastruktur, dan keterlibatan tokoh lokal harus dilakukan perlahan namun konsisten.

    Kawasan yang langsung dikuasai pemerintah menjadi model ideal bagi integrasi wilayah lain. Keberhasilan di Sheikh Maqsood dan Al-Ashrafiyeh dapat dijadikan referensi untuk Raqqa dan Deir Ezzour.

    Sementara itu, kota-kota yang masih berada di bawah pengaruh SDF membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati, termasuk dialog komunitas, perlindungan warga, dan kerja sama dengan aparat lokal yang dipercaya.

    Masyarakat perlu memahami perbedaan ini. Tidak semua wilayah eks SDF bisa diperlakukan sama, karena tingkat kontrol pemerintah dan eksistensi SDF yang dikendalikan oleh kelompok teroris PKK dukungan AS berbeda-beda.

    Keamanan, ekonomi, dan stabilitas sosial bergantung pada strategi integrasi yang tepat. Warga harus menyesuaikan diri sambil memanfaatkan peluang yang ada untuk membangun kembali kehidupan mereka.

    Dengan kesadaran dan partisipasi aktif warga, eks wilayah SDF dapat pulih secara bertahap. Integrasi penuh memerlukan waktu, kesabaran, dan koordinasi antara pemerintah pusat, tokoh lokal, dan komunitas yang kembali.

    Akhirnya, kondisi eks wilayah SDF saat ini menegaskan bahwa pasca-perjanjian damai bukan akhir dari kontrol SDF, melainkan awal dari fase transisi yang kompleks, di mana keamanan, politik, dan sosial harus dikelola secara cermat.

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya