Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Thursday, May 7, 2026

    Pinto dan Sejarah Sumatera


    Nama pengelana Portugis Fernão Mendes Pinto kembali menjadi perbincangan dalam kajian sejarah Nusantara setelah sejumlah peneliti menyoroti catatannya tentang Aceh, Aru, dan masyarakat Batak pada abad ke-16. Tokoh yang menulis buku Peregrinação itu dikenal sebagai salah satu penjelajah Eropa paling kontroversial karena kisah-kisahnya dianggap berada di antara fakta sejarah dan cerita petualangan yang dilebih-lebihkan.

    Meski demikian, banyak bagian tulisannya justru memiliki kesesuaian dengan kondisi politik dan perdagangan Asia Tenggara pada zamannya. Hal inilah yang membuat karya Pinto tetap menjadi sumber penting bagi peneliti sejarah awal Nusantara, terutama mengenai hubungan antara Malaka, Aceh, dan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra.

    Dalam sejumlah catatan yang dikaitkan dengan Pinto, disebutkan adanya wilayah bernama Daru atau d’Aru yang disebut sebagai “Kerajaan Batak”. Wilayah itu digambarkan membentang dari Sungai Rokan hingga Sungai Tamiang, sementara pusat pemerintahannya berada di pedalaman dekat aliran sungai besar, bukan di pesisir.

    Keterangan tersebut menarik perhatian karena memiliki kemiripan dengan gambaran sejarah Kerajaan Aru yang dikenal dalam sumber Melayu, Portugis, maupun tradisi lokal Sumatra Timur. Kerajaan itu memang pernah menjadi kekuatan besar sebelum terdesak ekspansi Kesultanan Aceh.

    Pinto juga dikaitkan dengan kisah tentang seorang utusan Kerajaan Aru yang datang ke Malaka untuk meminta bantuan menghadapi Aceh. Utusan itu disebut bernama Aquareng Daholay, yang dalam tafsir modern diduga berkaitan dengan marga Daulay atau kelompok Batak tertentu di pedalaman Sumatra.

    Dalam kisah tersebut, Daholay menggambarkan tanah Aru sebagai kawasan kaya emas, lada, kamper, gaharu, dan benzoin. Komoditas itu memang merupakan hasil bumi utama Sumatra pada masa perdagangan internasional abad ke-16, terutama dalam jaringan dagang India, Arab, dan Tiongkok.

    Catatan itu juga menyebut bahwa Daholay menyimpan dendam terhadap Aceh karena tiga anaknya disebut tewas dalam konflik di kawasan yang diduga berada di wilayah Simalungun. Walaupun detail tersebut masih diperdebatkan, kisah itu memperlihatkan besarnya tekanan politik Aceh terhadap kerajaan-kerajaan di Sumatra saat itu.

    Beberapa nama tempat yang muncul dalam kisah Pinto juga dianggap menarik karena memiliki kemiripan dengan lokasi nyata di Sumatra. Nama Panaju misalnya diduga berkaitan dengan pusat kekuasaan Batak di pedalaman, sementara Hacanduri disebut-sebut mungkin merujuk pada Sungai Bila.

    Para peneliti menilai, meskipun banyak bagian kisah Pinto sulit diverifikasi, beberapa detail geografis yang ia tuliskan cukup konsisten dengan kondisi Sumatra abad ke-16. Hal itu membuat sebagian ahli percaya bahwa Pinto memang memperoleh informasi langsung dari jaringan perdagangan Portugis di Malaka.

    Namun reputasi Fernão Mendes Pinto tetap penuh kontroversi. Di Eropa bahkan muncul sindiran terkenal berbunyi “Fernão, mentes? Minto!” yang berarti “Fernão, kau bohong? Ya, saya bohong.” Sindiran itu muncul karena kisah perjalanannya dianggap terlalu luar biasa untuk dipercaya sepenuhnya.

    Dalam bukunya, Pinto mengaku pernah menjadi pedagang, tawanan perang, utusan diplomatik, tentara, hingga budak di berbagai wilayah Asia. Ia juga mengklaim ikut terlibat dalam kontak awal Portugis dengan Jepang.

    Banyak kisahnya terdengar sangat dramatis. Ia menggambarkan badai besar, kerajaan kaya raya, perang berdarah, dan petualangan panjang yang nyaris tak masuk akal bagi sebagian pembaca Eropa pada masa itu.

    Meski begitu, penelitian modern menunjukkan tidak semua cerita Pinto dapat dianggap fiksi. Beberapa peristiwa yang dulu diragukan ternyata memiliki kecocokan dengan sumber Jepang, Tiongkok, maupun Portugis lainnya.

    Karena itulah para sejarawan kini cenderung melihat Peregrinação bukan sekadar buku bohong, melainkan campuran antara memoar perjalanan, cerita pelaut, laporan perdagangan, dan karya sastra petualangan.

    Untuk kawasan Nusantara sendiri, catatan Pinto dianggap berharga karena ditulis pada masa ketika Portugis aktif menguasai Malaka dan menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan di Sumatra. Situasi itu memungkinkan Pinto mendapatkan informasi dari pedagang, penerjemah, maupun pejabat lokal.

    Kisah tentang konflik Aceh dan Aru juga memiliki dasar sejarah yang cukup kuat. Pada abad ke-16, Kesultanan Aceh memang sedang memperluas pengaruhnya di Sumatra dan berusaha menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Malaka.

    Kerajaan Aru yang berada di pesisir timur Sumatra menjadi salah satu sasaran penting karena wilayah itu kaya hasil hutan dan memiliki hubungan dagang internasional. Konflik antara Aceh dan Aru juga tercatat dalam hikayat Melayu serta laporan Portugis lain.

    Yang membuat catatan Pinto semakin menarik adalah penyebutannya tentang “Raja Batak” dan hubungan pedalaman Batak dengan dunia pesisir. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak pada masa itu kemungkinan sudah terhubung dengan jaringan perdagangan regional jauh sebelum kolonialisme Belanda masuk ke Sumatra.

    Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa setiap bagian kisah Pinto harus dibandingkan dengan sumber lain. Kronologi dalam bukunya sering tidak konsisten, sementara beberapa detail kemungkinan telah dibumbui agar lebih menarik bagi pembaca Eropa.

    Perdebatan mengenai Pinto pada akhirnya memperlihatkan bagaimana sejarah Nusantara sering berada di antara fakta, tafsir, dan legenda. Catatan seorang pengelana asing bisa menjadi sumber penting, tetapi juga harus dibaca secara kritis agar tidak berubah menjadi mitos baru.

    Di tengah berbagai kontroversinya, Fernão Mendes Pinto tetap meninggalkan warisan besar bagi studi sejarah Asia Tenggara. Dari pelabuhan Malaka hingga pedalaman Aru dan Batak, kisah-kisahnya terus memancing rasa ingin tahu tentang hubungan lama Nusantara dengan dunia global pada abad ke-16.

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya